
Saturday, September 16, 2006
Masyarakat Australia Perlu Berpandangan Luas

Ketika Simbol-simbol Figuratif Wayang Susah Ditangkap

Orang-Orang pun Bertanya Siapa Sidiq Martowidjoyo

Kota Pahlawan Tanpa Soekarno-Hatta

Sampai Kapan Seniman Muda Harus Menunggu?

Balada Kasikan
Musium Rekor Indonesia (Muri) harusnya mencatat nama Kasikan ke dalam buku rekornya. Kakek renta berusia 76 tahun ini menjadi tahanan titipan Polda Jatim di Mapolsek Krian, Sidoarjo. Dengan demikian ia menjadi tahanan tertua, setidaknya di Mapolsek Krian.
Beruntung ada yang menebusnya, sehingga ia hanya mendekam di balik terali selama seminggu – ditangkap hari Senin (7/2), dibebaskan hari Minggu (13/2). Seharusnya ia menghadapi tuntutan 2 tahun penjara oleh karena terbukti menjual returan tabloid porno (pasal 282 KUHP – soal pornografi).
Sekadar diketahui, Kasikan tak lain adalah mertua Singgih Sutoyo (Raja Media Porno Indonesia yang telah berkali-kali diberitakan Sapujagat sejak 2003 dan sampai hari ini masih licin dari jerat hukum). Dengan kata lain, Kasikan adalah bapak (tiri) Kuniwati Rahayu, istri Singgih Sutoyo.
Kebetulan Kasikan memang tinggal bertetangga dengan Singgih di Desa Wonokupang, Balongbendo Sidoarjo – di mana letak industri pornografinya (berikut percetakannya) yang diberi label Top Group Media juga berkantor tak jauh dari sana.
Adapun pekerjaan sehari-hari Kasikan hanyalah menghabiskan hari tuanya dengan duduk-duduk minum kopi sambil menghisap rokok kretek di depan pintu gerbang kantor milik sang menantu yang memproduksi berbagai Tabloid Panas – seperti Hot, X Tra, Sexy, Blitz, Top, Buah Bibir, On Line dan masih banyak lagi.
Tiap pagi duduk-duduk di sana dengan tumpukan returan produk pornografi di sekitarnya. Pun tak sedikit anak-anak kecil yang lewat di sana merengek-rengek kepadanya minta dikasih tabloid bergambar wanita telanjang yang sebagian besar berserakan di lantai itu. Kasikan sungguh baik hati, dengan ringan tangan ia memberinya tanpa memungut biaya sepeser pun.
Jangankan minta sebuah, minta segebok pun pasti dikasih sama Pak Tua yang dikampungnya akrab dipanggil Abah ini. “Untuk apalagi barang returan ini?” begitu kira-kira yang ada dibenaknya saat membagi-bagi gratisan barang dagangan menantunya ke setiap orang yang memintanya.
Usut punya usut, returan pornografi yang diberikan secara cuma-cuma ini ternyata dijual kembali secara eceran di jalan-jalan raya oleh anak-anak itu, pada umumnya di kawasan yang ada lampu merahnya. Jika tabloid itu masih baru harga per-eksemplarnya Rp. 3000-an, maka returannya oleh anak-anak itu dijual kembali dengan banting harga Rp. 500-an, atau Rp. 1000 dapat tiga. Keuntungan finansial dipihak anak-anak. Lumayan, buat tambahan uang jajannya.
Tapi nahas buat Kasikan. Hari minggu awal Februari lalu (6/2), salah seorang anak yang menjajakan returan eceran itu dicokok petugas Polda Jatim. “Ambil dari mana kamu, barang-barang ini?,” bentak penyidik di Mapolda Jatim. Mumpung belum dihajar habis-habisan, langsung saja anak itu menunjuk ke Abah Kasikan.
Tidak begitu sulit. Esoknya (7/12), pas adzan Lohor, Kasikan pun digiring oleh petugas serse saat mau sholat di Langgar yang terletak di samping rumahnya, Desa Wonokupang, Balongbendo, Sidoarjo. Selanjutnya ia diangkut Mobil Panther menuju Mapolda Jatim Jl. A Yani Surabaya. Sambil menunggu berkasnya sempurna (P21), Kasikan kemudian dipindahkan ke Mapolsek Krian.
Kuniwayati Rahayu yang dikampungnya biasa disapa Yayuk tentu kalang kabut menyaksikan ayahnya ditangkap. Ia langsung menelpon suaminya, Singgih Sutoyo, yang sejak salah satu tabloidnya (Buah Bibir) kesandung pasal pornografi lebih milih untuk banyak tinggal di Jakarta. “Pa, sini pulang, Abah ditangkap,” kata Yayuk. “Emoh, aku wedhi,” jawab Singgih dari seberang telepon.
Maklum, Singgih adalah target utama dalam pemberantasan pornografi ini. Terlebih, sejak awal Januari lalu, DPRD Jatim telah merekomendasikan kepada Kapolda Jatim untuk menangkapnya. Tentu saja ia takut ikut ditangkap pula jika pulang.
Lalu, bagaiamana nasib mertuanya di Tahanan Mapolsek Krian? Dari ruang pengap tahanan Polsek Krian, Kasikan sempat mengaku sedih kepada salah seorang yang membesuknya. “Apes nian nasibku ini. Ketika teman-temanku baru tiba dari pergi haji dengan wajah cerah penuh harap, aku kok malah dipenjara,” ungkapnya.
Namun belakangan, informasi terakhir yang diterima redaksi Sapujagat, Kasikan akhirnya dibebaskan pada hari Senin (14/2) tanpa harus menunggu P21-nya rampung. Belum diketahui siapa yang menebusnya. Juga tidak jelas pula berapa harga tebusannya. (nif)
Ketika Orang-orang Menangisi Hidupnya

Lupakan Predikat Kota Pahlawan, Patung Penjajah Bertebaran di Surabaya

Kombes Pol Endro Wardoyo Agaknya Butuh Psikiater

Tania Di-TO Samsung, Panitia Di-TO Bodrex

Gara-gara Dipusatkan Jadi Pasar Kelontong

Suku Alif Huru Masih Hidup No Maden

Perempuan Indonesia Tidak Boleh Iri
Barangkali perempuan Indonesia sekarang sama nasibnya dengan perempuan Amerika Serikat di abad ke- 19. Butuh waktu beratus-ratus tahun bagi perempuan Amerika untuk bisa hidup nyaman seperti sekarang. Namun begitu, belum ada satu pun perempuan yang bisa jadi presiden di negara adidaya itu.
Beda di Indonesia, kaum perempuannya yang sampai sekarang masih harus jatuh bangun memperjuangkan emansipasinya justru telah melahirkan nama Megawati Soekarnoputri sebagai presiden wanita pertama di republik ini—Presiden RI ke-4. Itulah hebatnya Indonesia. Ini diakui isteri Konjen Amerika Serikat di Surabaya, Kathleen J. Brahney.
“Memang betul, dalam sejarah perjuangan perempuan di Amerika belum pernah melahirkan presiden wanita,” katanya sembari terbahak. “Mungkin saya bisa jadi presiden wanita pertama Amerika Serikat,” imbuhnya masih diiringi gelak tawanya. Pun Kathleen terpaksa mengakui dalam hal ini Indonesia lebih maju dari Amerika.
“Tapi kalau calon wakil presiden wanita pernah ada. Tahun 1980-an, ada seorang calon presiden yang ingin berpasangan dengan calon wakil perempuan. Tapi, dalam pemilihan, warga Amerika tidak menghendakinya. Akhirnya mereka gagal,” imbuhnya. Sayangnya Kathleen lupa nama calon presiden berikut pasangannya yang perempuan itu.
Lebih lanjut Kathleen memaparkan, sejarah perjuangan perempuan di Amerika Serikat dimulai sejak tahun 1846. Sekadar diketahui, Amerika Serikat merdeka dari kolonial Inggris pada tahun 1776. Namun negara ini tidak termasuk Commonwealth sebab kemerdekaannya tidak diberi. Amerika Serikat dan Indonesia adalah dua negara di dunia yang kemerdekaannya tidak diberi penjajah.
Kathleen mengisahkan, pergerakan perempuan di AS dimulai dari kota kecil bernama St. Paulus. Waktu itu Amerika telah merdeka selama 70 tahun. Tapi sampai saat itu belum ada kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
“Di zaman itu wanita tidak bisa melakukan apa saja. Mereka dituntut harus patuh kepada suaminya. Tidak boleh sekolah. Tidak boleh ikut pemilu. Jadi, sejak merdeka, butuh waktu 70 tahun bagi wanita Amerika untuk bisa ikut pemilihan suara,” ungkap Kathleen.
“Dari situlah kemudian semuanya dimulai. Lalu ditetapkan lewat Undang-Undang bahwa semua orang —laki-laki dan perempuan— punya hak yang sama seperti yang diberi Tuhan. Termasuk hak kemerdekaan, kesehatan, kebahagiaan dan lain-lain,” jelasnya.
Namun demikian, Kathleen menambahkan, AS baru menarik pekerja wanita di pemerintahan sejak perang dunia ke dua (1938 - 1945). Perjuangan perempuan semakin marak di tahun 1960-an. Tapi waktu itu isu yang dibawa sudah berganti. Yaitu persamaan ras antara kulit putih dan kulit hitam. “Sekarang, semua bidang pekerjaan terbuka untuk wanita. Malah di perguruan tinggi sekarang lebih banyak wanitanya dibanding laki-laki. Bahkan, sudah ada bidang studi wanita di sana yang banyak diminati mahasiswa,” paparnya.
Kathleen punya data, sampai hari ini tercatat ada 68 juta pekerja wanita di Amerika Serikat atau 68% dari total pekerja (laki-laki dan perempuan). Meski sampai sekarang AS belum melahirkan presiden wanita, tapi semua kebebasannya dilindungi Undang-Undang. Perempuan Indonesia tidak boleh iri. Butuh perjuangan keras yang panjang untuk bisa hidup nyaman seperti di negaranya Bu Kathleen. Sampai kapan? 300 tahun lagi, mungkin. (nif)
Sodom dan Gomora

Ayam Pak Hasyim Tak Lagi Berkokok
Bukan Nahdlatul Ulama (NU) namanya kalau tidak pandai bikin anekdot. Joke yang dihasilkan bisa semakin lucu kalau mereka menyitir kebiasaan warga Nahdliyin itu sendiri – dan dilontarkan sendiri oleh petinggi NU tentunya. Tidak harus diciptakan dari Kantor Pusat PB NU Jl. Kramat, Jakarta. Dari kantor DPW NU Jatim yang berlokasi di Jl. Raya Darmo Surabaya pun bisa. Pokoknya segala sesuatu yang tampak aneh di NU (kantor mana pun) bisa dibuat jadi guyonan yang menyegarkan.
Seperti di masa euforia pilpres yang baru saja usai, sesuatu yang dianggap aneh justru muncul dari Kantor DPW NU Jatim yang dikenal sebagai basis pendukung (mantan) pasangan capres Megawati Soekarnoputri –Hasyim Musyadi. Ini artinya anekdot baru bakal lahir dari kantor ini. Mau tahu apa yang aneh pasca pilpres dari kantor yang sampai sekarang masih dipimpin oleh Ali Maschan Musa ini?
Yaitu keberadaan seekor ayam jantan disana. Ia datang sejak dua minggu menjelang pilpres berlangsung. Berarti sampai hari ini sudah sedikitnya satu bulan ia bertengger di sana. Lalu apa yang aneh dari ayam itu?
“Ayam ini bukan sembarang ayam. Ia didatangkan atas pertimbangan matang seorang ‘suhu’. Tidak pentinglah siapa nama ‘suhu’ itu. Tapi menurut sang ‘suhu’, ayam ini dengan suara kokoknya bisa memantau perkembangan dukungan massa terhadap Mega-Hasyim, jagoan capres PW NU Jatim. Menurutnya, kalau ayam ini berkokok, berarti banyak orang sedang berpihak ke pasangan capres ini,” jelas seorang sumber di NU Jatim dengan nada serius.
Entah sumber tadi ngawur atau tidak. Tapi setidaknya sejumlah sumber lain masih dari kantor NU membenarkan keterangan itu. Baiklah, langsung saja simak perkembangan suara pasangan Mega-Hasyim menurut pantauan suara kokok ayam hutan ini.
“Yang jelas di awal-awal ayam ini berada di kantor NU, ia sering ngoceh. Nggak siang nggak malam ayam ini seperti ngomel-ngomel terus. Tapi, meski kuping ini brebekan mendengarnya, berhubung menurut sang suhu yang mendatangkan ayam ini bahwa suara yang dikeluarkan ayam itu berarti pertanda baik bagi pasangan Mega-Hasyim, maka kami langsung keplok-keplok,” tukas sumber lain masih dari kalangan kantor NU Jatim.
Dan ayam jago itu terus berkaok-kaok hingga beberapa hari menjelang pilpres berlangsung. Orang-orang NU yang kesehariannya ngantor di sana, apalagi para pendukung berat pasangan Mega-Hasyim, langsung bertepuk tangan riuh (bahkan tidak pernah tidak) tiap kali ayam pembawa kabar itu bernyanyi.
“Ironisnya, sehari menjelang pilpres kok ya ayam itu berhenti berkokok seharian penuh. Bahkan sampai keesokan harinya ayam itu tidak bersuara sama sekali. Para pendukung Mega-Hasyim yang kebanyakan pada hari itu berkumpul di PW NU juga sedih melihat ayam itu tak lagi berkokok. Tepuk tangan dari mereka yang biasanya mengiringi kokok ayam itu pun otomatis tak terdengar lagi,” jelas sumber tadi.
“Lebih ironis lagi, sampai hari ini, orang-orang disini (kantor NU) – bahkan pendukung Mega-Hasyim – tak lagi keplok-keplok jika ayam itu berkokok. Sepertinya mereka tidak peduli lagi dengan keberadaan ayam ini,” tambahnya.
Seperti yang telah ditetapkan sidang pleno KPU (3/10), Pasangan Mega-Hasyim akhirnya dinyatakan kalah dalam pilpres putara kedua. Pasangan ini hanya menang di empat provinsi (Bali, NTT, Kalbar dan Maluku) dengan total suara 44.865.944 atau 39,37%. Sementara rivalnya Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla menguasai provinsi lainnya dengan total suara 69.083.869.
Terlepas benar tidaknya cerita soal ayam di atas terkait dengan informasi perolehan suara Mega-Hasyim, namanya juga anekdot, diperoleh keterangan bahwa yang membawa ayam itu untuk kemudian dijadikan hewan piaraan di Kantor PW NU adalah H. Ahmad Sujono. Ia adalah Wakil Sekertaris PW NU Jatim.
“Benar saya yang membawa ayam itu kemari,” katanya ketika dikonfirmasi. “Saya dikasih orang. Yah, semacam souvenir begitulah,” terangnya. Adapun pihak yang memberi souvenir itu, Sujono tidak bersedia menyebut namanya. Ia hanya mengatakan bahwa orang itu adalah seorang Kiai dari Kangean. “Sebut saja Kiai Kangean,” katanya. Barangkali Kiai Kangean inilah yang disebut-sebut sebagai ‘suhu’ oleh sumber tadi.
“Ayam itu asli diambil dari hutan di Kangean sana. Sebenarnya yang dijadikan maskot Jatim ya jenis ayam ini, Bekisar Kangean,” jelasnya menambakan. Sebenarnya, lanjut Sujono, ada dua ayam yang diberikan Kiai Kangean itu padanya. “Tapi yang satu lagi saya pelihara di rumah,” ujarnya. “Ayam ini makannya tidak sembarangan loh. Tiap hari harus dipakani jagung dan nasi hangat. Sementara minumnya harus hemaviton,” terangnya. “Dengan demikian suaranya bisa melengkung,” tambahnya.
Tapi Sujono menolak anggapan bahwa kehadiran ayam dari Hutan Kangean di PW NU ini terkait untuk memantau kemenangan (mantan) pasangan capres Mega-Hasyim lewat suara kokoknya. Soal tidak berkokoknya ayam bekisar ini pas di hari H pilpres 20 September lalu, Sujono berasumsi karena yang ngopeni ayam itu di kantor ini telat ngasih makan saja. Selanjutnya ia mengatakan bahwa keterangan yang diuangkap beberapa sumber diatas tadi hanyalah anekdot baru lainnya yang kembali muncul dari kalangan NU. (nif)
Subscribe to:
Posts (Atom)